//
you're reading...
Common

Perjalanan Pasukan Kaum Muslimin di Depan Abu Sufyan bin Harb

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

Perjalanan Pasukan Kaum Muslimin di Depan Abu Sufyan bin Harb

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Sufyan bin Harb telah pergi, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Al Abbas, tahan Abu sufyan di tempat sempit di depan gunung, agar pasukan Allah melaluinya, dan ia melihat mereka.’ Aku segera segera keluar dan menahan Abu Sufyan bin Harb di tempat yang diperintahkan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, tidak lama kemudian berbagai kabilah berjalan melewatinya dengan membawa bendera masing-masing. Setiap satu kabilah lewat, Abu Sufyan berkata, ‘Hai, Al Abbas, siapa ini?’ Aku berkata, ‘Ini kabilah Sulaim.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Apa urusanku dengan kabilah Sulaim.’ Kabilah lain lewat, kemudian Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai, Al Abbas, ini siapa?’ Aku berkata, ‘Ini adalah kabilah Maimunah.’ Setiap kali kabilah lewat Abu Sufyan bertanya kepadaku tentang kabilah tersebut dan ketika aku telah menjelaskan kabilah tersebut kepadanya, ia berkata, ‘Apa urusanku dengannya.’ Itulah hingga akhirnya Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam lewat dengan batalionnya yang bernama hijau’.”

Batalion Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Hisyam berkata, “Batalion Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dikatakan hijau karena besinya banyak dan didominasi warna hijau di dalamnya.”

Ibnu Ishaq berkata, “Di batalion tersebut terdapat kaum Muhajirin dan Anshar Radhiyallahu Anhum. Setiap dari mereka diliputi baju besi. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Mahasuci Allah, wahai Al Abbas, siapa mereka?’ Al Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, ‘Itulah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bersama bersama kaum Muhajirin dan Anshar.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Tidak ada satu pun orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka. Demi Allah, wahai Al Abbas, kerajaan anak saudaramu besok pagi menjadi sangat agung.’ Al Abbas bin Al Muththalib berkata, ‘Hai Abu Sufyan, itulah kenabian.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ya betul.’ Al Abbas bin Al-Muththalib berkata, ‘Sekarang segeralah pergi kepada kaummu.’

Ketika Abu Sufyan bin Harb tiba di orang-orang Quraisy, ia berteriak dengan suara dengan membawa pasukan yang tidak ada tandingannya. Oleh karena itu, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman.’

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

hal 376

Hindun binti Utbah mendekat kepada Abu Sufyan bin Harb, memegang kumisnya, dan berkata, ‘Perangilah orang yang besar badannya, banyak lemaknya, dan orang sesat. Sungguh jelek pemimpin kaum.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Celakalah kalian, jangan kalian tertipu oleh wanita ini. Sungguh Muhammad datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak ada tandingannya. Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Semoga Allah membunuhmu. Apa arti rumahmu bagi kami?’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman.’ Orang-orang Quraisy pun berpencar-pencar, ada yang pergi ke rumah-rumah mereka dan ada yang pergi ke Masjidil Haram.”

Kedatangan Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam di Dzi Thuwa

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam tiba di Dzi Thuwa, beliau berdiri di atas hewan kendaraannya, bersorban dengan separuh burdah dari Yaman yang berjahit dan berwarna merah. Beliau menundukkan wajah karena tunduk kepada Allah Ta’ala ketika melihat penaklukan yang diberikan Allah Ta’ala kepada beliau, hingga jenggotnya nyaris menyentuh bagian tengah.

Masuk Islamnya Abu Quhafah

Ibnu Ishaq berkata, “Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya dari neneknya, Asma’ binti Abu Bakar, yang berkata, “Ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam berhenti di Dzi Thuwa, Abu Quhafah berkata kepada putrid bangsanya, ‘Putriku, bawalah aku naik ke Gunung Abu Qais.’ Abu Quhafah sudah buta. Aku membawanya naik ke Gunung Abu Qais. Ia berkata, ‘Hai putriku, apa yang engkau lihat?’ Putrinya berkata, ‘Aku lihat warna hitam yang berkumpul.’ Abu Quhafah berkata, ‘Itu pasukan berkuda.’ Putri bungsunya berkata, ‘Aku juga melihat orang mondar mandir berjalan di depan mereka.’ Abu Quhafah berkata, ‘Putriku, dialah pengatur. Ia memerintahkan pasukan berkuda dan berada di depannya.’ Putrinya berkata, ‘Demi Allah, warna hitam itu menyebar.’ Abu Quhafah berkata, ‘Demi Allah, pasukan berkuda telah berjalan, oleh karena itu, bawa aku turun dan bertemu pasukan berkuda tersebut sebelum tiba di rumah. Putri bungsu Abu Quhafah mengenakan kalung dari perak dan berpapasan dengan salah seorang dari pasukan berkuda kemudian memutus kalung tersebut dari lehernya. (JGA: Dasar pengikut geng perampok!)

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
hal 377

Ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakar datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika beliau melihat ayah Abu Bakar, beliau bersabda, ‘Hai Abu Bakar, kenapa engkau tidak membiarkan ayahmu di rumah dan aku saja yang datang kepadanya?’ Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya.’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam mendudukan Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepadanya, ‘Masuk Islamlah. Abu Quhafah pun masuk Islam. Tidak lama setelah itul, Abu Bakar membawa ayahnya kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan kepalanya seperti tumbuh-tumbuhan Tsaqhamah. Beliau bersabda, ‘Rubahlah warna rambutnya.’ Abu Bakar berdiri, memegang tangan saudara perempuannya, dan berkata, ‘Aku bersumpah kepada Allah dan Islam. siapa yang mengambil kalung saudara perempuanku.’ Tidak ada satu pun orang yang menjawab pertanyaan Abu Bakar, kemudian ia berkata, ‘Wahai saudara perempuanku, relakan kalungmu, demi Allah, kejujuran di manusia pada hari ini amat sedikit’.” (JGA: Mana ada muslim yang ngaku sebagai perampok, walau telah merampok!)

Pengaturan Pasukan Kaum Muslimin ketika Memasuki Makkah

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa setelah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam memecah pasukan di Dzi Thuwah, beliau memerintahkan Az-Zubair bin Al –Awwam masuk ke dalam salah satu pasukan berkuda. Tadinya Az-Zubair bin Al-Awwam berada di pasukan sayap kiri. Beliau juga memerintahkan Sa’ad bin Ubadah masuk ke salah satu pasukan dari Kada’.

Ucapan Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu Anhu ketika Memasuki Makkah

Ibnu Ishaq berkata, sebagian ulama meyakini bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata ketika memasuki Makkah, “Hari ini hari kepahlawanan dan hal-hal haram menjadi halal.” Ucapan tersebut didengar salah seorang dari kaum Muhajirin (Ibnu Hisyam berkata, “Orang tersebut adalah Umar bin Khaththab.”), kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Sa’ad bin Ubadah? Kami tidak merasa aman jika ia mempunyai kekuasaan atas Quraisy.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, “Cari Sa’ad bin Ubadah, ambil bendera perang darinya, dan hendaklah engkau yang memasuki Makkah dengan bendera perang tersebut.”

– – – – – – – – – – – – – – – –
Hal 378

Lokasi-lokasi Masuknya Pasukan Kaum Muslimin ke Makkah

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dalam haditsnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Khalid bin Walid memasuki Makkah dari Al-Lith di Makkah Bawah bersama salah satu pasukan. Tadinya, Khalid bin Walid berada di pasukan sayap kanan dimana di dalamnya terdapat kabilah Aslam, kabilah Sulaim, kabilah Ghifar, kabilah Muzainah, kabilah Juhainah, dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sedang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bersama salah satu pasukan kaum Muslimin turun ke Makkah di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau sendiri memasuki Makkah dari Adzakhir hingga turun di Makkah Atas, kemudian di sanalah kubah beliau dipasang.

Perihal Penduduk Al-Khandamah

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Shafwan bin Umaiyyah, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr mengumpulkan massa di Al-Khandamah untuk berperang. Himas bin Qais bin Khalid saudara Bani Bakr telah menyiapkan senjata sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah. Istri Hismas bin Qais berkata, “Kenapa engkau menyiapkan senjata?” Himas bin Qais menjawab, “Untuk memerangi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” Istrinya berkata, “Demi Allah, aku berpendapat bahwa senjatamu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, aku berharap engkau tidak dibantu mereka.” Himas bin Qais berkata,

    “Jika mereka menyerah pada hari ini, aku tidak mempunyai alasan menyerah, karena aku mempunyai senjata sempurna dan tombak yang panjang mata penanya, serta pedang yang mempunyai dua mata pena dan cepat terhunus.”

Himas bin Qais ikut hadir di Perang Al-Khandamah bersama Shafwan bin Umaiyyah, Suhail bin Amr, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika mereka bertemu anak buah Khalid bin Walid, mereka menyerang dengan sedikit penyerangan hingga menewaskan Kurz bin Jabir warga Bani Muharib bin Fihr dan Khunais bin Khalid bin Rabi’ah bin Ashram sekutu Bani Munqidz. Tadinya, keduanya berada di pasukan berkuda Khalid bin Walid, kemudian berjalan di jalan lain hingga keduanya terbunuh; Khunais bin Khalid terbunuh sebelum Kurz bin Jabir. Setelah Khunaiz bin Khalid terbunuh, Kurz bin Jabir meletakkannya di antara kedua kakinya, kemudian ia berperang membela hingga ia gugur sambil melantunkan syair,

– – – – – – – – – – – – –
hal 379

    ‘Orang-orang yang bening, bersih raut mukanya, dan suci hatinya dari Bani Fihr telah mengetahui
    Bahwa pada hari ini aku pasti menyerang karena membela Abu Shakhr.’

Ibnu Hisyam berkata, “Nama panggilan Khunais bin Khalid adalah Abu Shakhr dan berasal dari kabilah Khuza’ah.”

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, “Orang yang terbunuh dari kabilah Juhainah adalah Salamah bin Al-Maila’, salah satu personel pasukan berkuda Khalid bin Walid. Korban dari kaum musyirikin kira-kira dua belas atau tiga belas orang. Setelah itu, orang-orang musyrikin mundur, termasuk Himas bin Qais hingga ia masuk ke rumahnya sambil berkata kepada istrinya, “Tutuplah pintu rumah.” Istrinya berkata, “Mana bukti ucapanmu?” Himas bin Qais berkata,

    “Ah, seandainya engkau menyaksikan Perang Al-Khandamah
    Shafwan dan Ikrimah melarikan diri
    Abu Yazid berdiri seperti istri yang ditinggal mati suaminya dengan meninggalkan anak-anak
    Mereka dihadapi oleh pedang-pedang kaum Muslimin
    Pedang-pedang tersebut memutus semua lengan dan tengkorak kepala
    Hingga tidak ada yang bisa didengar kecuali suara yang tidak bisa dipahami
    Mereka mempunyai suara dari tenggorokan dan suara dari dada di belakang kami
    Maka engkau tidak dapat mengecam dengan sepatah kata pun.”

Kode Kaum Muslimin di Penaklukan Makkah

Ibnu Ishaq berkata, “Kode kaum Muslimin di penaklukan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif adalah sebagai berikut;
1. Kode kaum Muhajirin adalah ya bani Abdurrahman
2. Kode kaum Al-Khazraj adalah ya bani Abdillah
3. Kode kaum Al-Aus adalah ya bani Ubaidilah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memerintahkan Pembunuhan Beberapa Orang Kafir Kendati Mereka Bergantung di Kain Ka’bah

Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam teleah berpesan kepada para komandan pasukannya—ketika beliau memerintahkan mereka memasuki Makkah—agar tidak memerangi siapa pun kecuali orang-orang yang memerangi mereka dan bebeapa orang yang harus dibunuh kendati orang-orang tersebut bergantung di kain Ka’bah. Orang-orang tersebut adalah sebagai berikut:

– – – – – – – – – – –
Hal 380

1. Abdullah bin Sa’ad

Ia saudara Bani Amir bin Luai. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para komandan perang membunuhnya, karena tadinya ia masuk Islam dan menulis wahyu untuk beliau, namun kemudian murtad dan pulang kepada orang-orang Quraisy. Abdullah bin Sa’ad lari kepada Utsman bin Affan—saudara susuannya—dan Utsman bin Affan menyembunyikannya kemudian membawanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika kaum Muslim dan penduduk Makkah telah merasa tenang. Utsman bin Affan meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk Abdullah bin Sa’ad, namun beliau diam lama sekali, kemudian bersabda, ‘Ya.’ Ketika Utsman bin Affan telah meninggalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di sekitar beliau, ‘Aku diam lama tadi karena aku berharap ada salah seorang dari kalian yang berdiri memenggal leher Abdullah bin Sa’ad.’ Salah seorang dari kaum Anshar berkata, ‘Kenapa engkau tidak memberi isyarat kepadaku, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Nabi itu tidak boleh membunuh dengan memberi isyarat.’ (Ibnu Hisyam berkata, “Setelah itu, Abdullah bin Sa’ad masuk Islam lagi dan Umar bin Khaththab mengangkatnya sebagai gubernur di salah satu wilayah Islam, begitu juga Utsman bin Affan sesudah Umar bin Khaththab.”)

2. Abdullah bin Khaththal

Ia salah seorang dari Bani Tamim bin Ghalib. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadapnya, karena tadinya, ia Muslim dan beliau mengutusnya sebagai petugas zakat ke salah satu daerah bersama salah seorang dari kaum Anshar dan mantan budak Abdullah bin Khaththal yang Muslim. Ia berhenti di suatu tempat, kemudian menyuruh mantan budaknya menyembelih kambing hutan miliknya dan membuat makanan untuknya. Setelah itu Abdullah bin Khaththal tidur. Ketika ia bangun, ia melihat mantan budaknya tidak membuatkan makanan untuknya, kemudian ia menyerangnya hingga tewas. Setelah itu, ia murtad. Ia mempunyai dua penyanyi wanita pelacur dan istri. Kedua penyanyi wanita yang pelacur tersebut bernyanyi menghina Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau memerintahkan pembunuhan keduanya bersama Abdullah bin Khaththal.

3. Al-Huwairits bin Nuqaidz

Nama lengkapnya adalah Al-Huwairits bin Nuwaidz bin Wahb bin Abdun bin Qushai. Ia termasuk orang yang menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah (Ibnu Hisyam berkata, “Abdullah bin Al-Abbas membawa…

¬- – – – – – – – – – – –
Hal 381

Fathimah dan Ummu Kultsum, keduanya putrid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Makkah dengan tujuan Madinah, kemudian hewan-hewan kendaraan keduanya dicucuk lambungnya oleh Al-Huwairits bin Nuqaidz hingga keduanya jatuh terpelanting ke tanah.”)

4. Miqyas bin Shubabah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadap Miqyas bin Shubabah, karena ia telah membunuh salah seorang dari kaum Anshar yang membunuh saudaranya dengan tidak sengaja dan karena ia pulang ke Quraisy dalam keadaan murtad.

5 dan 6. Sarah dan Ikrimah bin Abu Jahal

Sarah adalah mantan budak salah seorang dari Bani Abdul Muththalib, sedang Ikrimah adalah anak Abu Jahal. Sarah termasuk wanita yang menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah. Adapun Ikrimah bin Abu Jahal, ia kabur ke Yaman, sedang istrinya, Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam, masuk Islam kemudian memintakan jaminan keamanan untuknya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau mengabulkan permintaannya. Setelah itu, Ummu Hakim binti Al-Harits pergi mencari suaminya ke Yaman hingga akhirnya berhasil membawanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masuk Islam.

Abdullah bin Khaththal dibunuh Sa’id bin Harits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami.

Miqyas bin Shubabah dibunuh Numailah bin Abdullah, salah seorang dari kaumnya sendiri. Tentang pembunuhan Miqyas bin Shubabah, saudara perempuannya berkata,

    ‘Aku bersumpah, sungguh Numailah telah menghinakan kaumnya
    Dan melukai tamu-tamu musim hujan dengan membunuh Miqyas
    Sungguh indah mata yang melihat orang seperti Miqyas
    Jika wanita-wanita nifas tidak dibuatkan makanan setelah melahirkan.’

Sedang dua penyanyi muda pelacur Abdullah bin Khaththal, salah satu dari keduanya dibunuh, sedang satunya melarikan diri, kemudian meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau mengabulkan permintaanya.

Sarah juga meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau memberinya. Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab, ia diinjak kuda salah seseorang di salah satu Al-Abthah hingga ia meninggal dunia.

Sedang Al-Huwairits bin Nuqaidz, ia dibunuh Ali bin Abu Thalib.”
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Hal 382

– HOT NEWS: MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING SELINGKUH, ISTRI PERTAMA KABUR DARI RUMAH!!!!

– MENKOMINFO: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?

– Korupsi Ahmad Heryawan/Aher Gubernur PKS Bisa dibaca disini.

– Korupsi Anis Matta, Tifatul Sembiring dan pejabat PKS lainnya bisa dibaca disini.

Beberapa Link/Website Mungkin Diblokir, untuk membuka blokir silakan klik:
Tip-tip Buka Blokir Website Karena Nawala

Atau dengan Firefox Add On Berikut:

Firefox anonymoX – Anti Blokir Situs Website

Faithfreedom Indonesia

PKS Partai Mesum
Foto Koalisi Koruptor Prabowo Hatta Prahara

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: