//
you're reading...
Berita Nasional

Anak-Anak Penganut Kepercayaan Sulit Mendapat Akta Kelahiran

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

Anak-Anak Penganut Kepercayaan Sulit Mendapat Akta Kelahiran

JAKARTA, ICRP – Ketua Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) Indonesia Magdalena Sitorus menyinggung dampak diskriminasi atas nama agama terhadap anak-anak di tanah air. Keprihatinan perempuan yang telah malang melintang dalam membela kesetaraan gender dan hak-hak anak ini disampaikan dalam diskusi bertemakan, “Berkaca dan Berbenah untuk pelaksanaan konvensi hak anak di Indonesia”

“Banyak anak terhambat untuk mendapat akta kelahiran karena orang tuanya tidak berasal dari enam agama yang diakui,” ucap Magdalena Sitorus di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta), Kamis (27/11).

Dalam acara diskusi memperingati 25 tahun Konvensi Hak Anak ini, Magdalena mengungkapkan anak-anak penganut kepercayaan menjadi objek diskriminasi karena pernikahan kedua orang tua mereka tidak mendapatkan pengakuan dari negara. Sehingga, sistem birokrasi di negeri kita tidak mau membuatkan akta kelahiran anak-anak ini.

“Ada alternatifnya memang misalnya membuatkan akta kelahiran dari Ibu, namun nanti selalu akan muncul stigma bahwa anak-anak ini adalah anak haram,” ucap Magdalena.

Pemerintah seharusnya, tegas Magdalena, memikirkan dengan bijak nasib anak-anak ini. Pasalnya, ungkap perempuan yang digadang-gadang menjadi ketua komnas perempuan ini, akta kelahiran merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan bernegara. “Ketika seorang anak tidak dicatatkan ke dalam akta kelahiran maka ia tidak tercatat sebaga warga negara,” ujar Magdalena.

Magdalena menyayangkan pandangan negara yang masih belum sensitif melihat hal semacam ini. “Padahal ini kan bentuk diskriminasi,” tegasnya.

Menyikapi keberagaman agama dan keyakinan di tanah air, perempuan yang mengenakan selendang itu berharap pemerintah untuk tetap sejalan dengan konstitusi.

“Kebebasan berkyakinan itu dijamin oleh konstitusi,” ujarnya.

“Seringkali kita dihadapkan pada persoalan agama di negara yang majemuk ini, padahal beragamnya agama di tanah air ini tak perlu dibanding-bandingkan, melainkan perlu diapresiasi,” pungkasnya mengkritik sikap negara dan kelompok intoleran.

Meski menteri agama tengah rajin menggenjot semangat keberagaman, namun permasalahan kependudukan di tanah air memiliki komplektisitas yang cukup tinggi. Pasalnya, berdasarkan UU Administrasi Penduduk, negara masih mengakui hanya ada enam agama yang diakui. Padahal realitas di masyarakat kita menunjukan bahwa sekurang-kurangnya ada sekitar 300 agama lokal di tanah air.

Apakah pemerintahan Joko Widodo akan tetap melanggengkan sikap diskriminasi negara pada warga negara lainnya sebagaimana pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang lalu?

http://icrp-online.org/2014/12/02/engli … kelahiran/

– HOT NEWS: MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING SELINGKUH, ISTRI PERTAMA KABUR DARI RUMAH!!!!

– MENKOMINFO: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?

– Korupsi Ahmad Heryawan/Aher Gubernur PKS Bisa dibaca disini.

– Korupsi Anis Matta, Tifatul Sembiring dan pejabat PKS lainnya bisa dibaca disini.

Beberapa Link/Website Mungkin Diblokir, untuk membuka blokir silakan klik:
Tip-tip Buka Blokir Website Karena Nawala

Atau dengan Firefox Add On Berikut:

Firefox anonymoX – Anti Blokir Situs Website

Faithfreedom Indonesia

PKS Partai Mesum
Foto Koalisi Koruptor Prabowo Hatta Prahara

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: