//
you're reading...
Common

Allah SWT memiliki keterbatasan

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

simplyguest wrote:Meskipun dengan alasan etika lalu digunakan istilah pengganti untuk menggambarkan ketidakmampuan Allah SWT dalam hal memiliki suatu sifat, tetap saja pada dasarnya hal itu menunjukkan Allah SWT memiliki keterbatasan.

"Mencuri" tetaplah "mencuri", apapun istilah pengganti halusnya.
"Terbatas" tetaplah "terbatas", apapun istilah pengganti halusnya.

kuisa wrote:Saya terima pernyataan ini sebagai pilihan anda untuk mendefinisikan tuhan anda yang terbatas. Pilihan saya adalah sifat tidak menggambarkan kemampuan, dan kemampuan tidak menggambarkan sifat. :goodman:

Coba jawab pertanyaan saya ini :
Allah SWT mampu atau tidak untuk memiliki sifat jahat?
A. Mampu
B. Tidak Mampu.

Paling gak dijawab.
Guru coro mana bisa jawab pertanyaan sederhana kayak gitu.

kuisa wrote:tanya lagi ntar kalau belum jelas.
simplyguest wrote:Ya itu pertanyaannya :
Perbuatan yang manusia anggap jahat itu dianggap jahat juga tidak oleh Allah SWT?
YA atau TIDAK?

Bisa jawab atau tidak? Atau perlu meliburkan diri lagi sebulan?

kuisa wrote:Ide bagus, akan saya pertimbangkan, terlalu sering melayani murid pandir dan tidak sopan memang agak memuakkan.

PR untuk anda:
Buat kesimpulan dari tulisan yang saya suruh baca: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/setan-itu-makhluk-tidak-mungkin-menyaingi-tuhan-t55016/page160.html#p944917

Katanya kalo belum jelas, suruh tanya. Saya belum jelas, lalu bertanya.
Bukannya dijelasin jawabannya, eh malah ngasih PR lagi.
Dasar guru coro. Gak bisa jawab & jelasin pertanyaan sederhana dari murid, malah ngasih PR trus ngacir maenin burung kepala sekolah.

kuisa wrote:Silahkan ajukan pertanyaan setelah PR anda dikumpulkan.

Ooo.. tidak bisa.
Kalau ada murid yang belum jelas, guru berkewajiban untuk menjawab dan menjelaskan.
Tetap pertanyaannya masih sama :
Perbuatan yang manusia anggap jahat itu dianggap jahat juga tidak oleh Allah SWT?
YA atau TIDAK?

Gak bisa jawab? Coro.

simplyguest wrote:"Akan" itu berarti sudah terjadi atau belum?
Duluan mana kejadiannya? "Ketetapan" atau yang "akan"?
kuisa wrote:Tidak relevant bertanya "duluan mana" ketika Tuhan tidak terikat waktu dan Maha Mengetahui.
Jadi bagi Allah SWT, kejadian itu bukan "akan", tapi "sudah" terjadi?
kuisa wrote:Tidak terbatas waktu artinya tidak ada istilah akan atau sudah.

Kan kamu yang bilang sendiri kalau ketetapannya itu "duluan".
Kok sekarang jadi tidak ada yang "duluan" dan "belakangan"?
Coro emang hobinya jilat ludah kali ya…

simplyguest wrote:NGAWOR.
Manusia berusaha, lalu usahanya terwujud, itu bukan merupakan variabel bukti bahwa ada takdir yang meluluskannya.
Manusia berusaha, tapi tidak terwujud, itu juga bukan merupakan variabel bukti bahwa ada takdir yang menghalanginya.

Logika yang anda pakai ini adalah Fallacy. Namanya fallacy appeal to possibility/probability.
Saya kasih contoh :
A : Saya meyakini bahwa anak saya yang hilang itu karena diculik alien.
B : Belum tentu dong. Bisa aja diculik manusia biasa, kesasar, kecelakaan, dll.
A : Tapi faktanya anak saya hilang atau tidak?
B : Hilang.
A : Faktanya anak saya masih ada di sini atau tidak?
B : Tidak ada.
A : Nah, itulah variabel bukti bahwa alien lah yang menculik anak saya.
B : ……………… logika bahlul neng………

Ada yang salah tidak dari logika si A di atas?

kuisa wrote:Analogimu hanya untuk orang2 beragama nan pandir saja, orang beragama apapun dimanapun mengenal penyebab langsung seperti ditabrak mobil, disembuhkan dokter, dikuatkan obat mujarab, diserang virus, ditolong teman, namun hakekatnya adalah "Fate", ada kuasa yang lebih tinggi.
Orang boleh saja meyakini apa pun, terlepas dia beragama atau tidak.
Anda boleh saja meyakini bahwa ada takdir yang meluluskan atau menghalangi hasil dari tindakan anda.
Orang lain boleh saja meyakini bahwa ada alien yang sedang mengatur kehidupan kita dengan radar dan komputer supernya.

Tapi ketika orang itu (termasuk anda) berusaha membuat pembuktian dengan menggunakan logika seperti di atas, dia sudah menggunakan logika fallacy. Logikanya dalam melakukan pembuktian itu sudah salah, ngawur.
Kalau anda mengatakan orang yang menggunakan logika seperti itu sebagai "orang pandir", ya selamat, anda sudah termasuk ke dalam golongan orang2 pandir. Karena anda sudah membuat pembuktian dengan menggunakan logika yang sama.

kuisa wrote:Pahami lagi yang saya bold, disitulah posisi pandirmu. Orang2 beragama walaupun menerima tuhan, alien atau apapun sebagai penyebab segalanya, tetap memahami apa yang disebut penyebab langsung, saya contohkan dengan ditabrak mobil, digigit harimau dll.

Pahami komen saya yang saya bold merah, disitulah letak kecoroanmu.

Si A boleh saja meyakini alien yang menculik anaknya. Kenyataannya anaknya memang hilang.
Tapi jika si A menunjukkan fakta tentang anaknya hilang itu sebagai pembuktian bahwa alien yang menculik, dia sudah menggunakan logika fallacy appeal to possibility/probability.

Kuisa boleh saja meyakini ada takdir yang menghalangi usaha seseorang. Kenyataannya memang kadang usaha seseorang bisa gagal.
Tapi jika Kuisa menunjukkan fakta kegagalan usaha seseorang itu sebagai pembuktian bahwa ada takdir yang menghalangi, Kuisa sudah menggunakan logika fallacy appeal to possibility/probability.

Paham guru coro?

kuisa wrote:Bagi yang jualan tsb, selain penyebab langsung, jika ia beragama, umumnya mengembalikan hal itu pada Yang Maha Kuasa: takdir.

Jika si penjual itu menunjukkan fakta barang dagangannya laku itu sebagai pembuktian bahwa ada takdir yang meluluskan. si penjual itu sudah menggunakan logika fallacy appeal to possibility/probability.

kuisa wrote:Sudah tahu letak PANDIR mu dimana? Makanya saya suruh belajar yang benar biar setidaknya kamu ga terlalu pandir. PAHAM!

Gurunya yang coro gak ngerti fallacy appeal to possibility, kok malah ngata2in muridnya pandir.

kuisa wrote:Karena kamu beragama dan saya tidak ingin menganggapmu pandir, jangan pernah membawa analogi seperti itu lagi.
Dari logika2 yang anda gunakan selama ini, terlihat jelas bagaimana caranya jika seseorang ingin menjelaskan ajaran Islam, tapi harus tetap menjadi muslim.

Pertama, dia harus melakukan denial, penyangkalan terhadap logika2 sederhana ketika menjelaskan ajaran Islam. Pokoknya harus ditolak istilah "terbatas", padahal dari logikanya sendiri sudah menunjukkan kemustahilan/ketidakmampuan Allah SWT dalam memiliki satu sifat, yang artinya Allah SWT sudah memiliki keterbatasan.

Kedua, dia juga harus menolak pemikiran2 kritis yang muncul. Kalau ada yang sedikit kritis dengan argumennya, langsung dijawab "Gak usah ngeyel kamu", "Gak usah kamu bawa analogi2 itu lagi".
Maunya mungkin orang yang diberi penjelasan harus cuma manggut2 aja dan cuma menyebut "subhanallah…" seperti di masjid2.

Ketiga, dia harus menggunakan logika2 cacat, logika2 ngawur, logika fallacy dalam menjelaskan/membuktikan ajaran Islam.
Ketika ada yang bisa menunjukkan bahwa logika pembuktiannya itu cacat dengan menggunakan analogi, malah dibilang "Analogi itu hanya untuk orang pandir, gak usah kamu bawa analogi2 seperti itu lagi".
Balik lagi ke pertama, DENIAL.

kuisa wrote:Belum saatnya kamu bikin kesimpulan.

Gak usah malu2 bu, pake ngelarang bikin kesimpulan segala.
Itu baru kesimpulan awal kok, dan terbukti benar kan?

kuisa wrote:Setelah pelajaran selesai nanti, kamu saya ijinkan bikin kesimpulan.

Isi mata pelajarannya aja gak mutu, cuma baru bisa ngasih prolog kelas coro.

– HOT NEWS: MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING SELINGKUH, ISTRI PERTAMA KABUR DARI RUMAH!!!!

– MENKOMINFO: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?

– Korupsi Ahmad Heryawan/Aher Gubernur PKS Bisa dibaca disini.

– Korupsi Anis Matta, Tifatul Sembiring dan pejabat PKS lainnya bisa dibaca disini.

Beberapa Link/Website Mungkin Diblokir, untuk membuka blokir silakan klik:
Tip-tip Buka Blokir Website Karena Nawala

Atau dengan Firefox Add On Berikut:

Firefox anonymoX – Anti Blokir Situs Website

Faithfreedom Indonesia

PKS Partai Mesum
Foto Koalisi Koruptor Prabowo Hatta Prahara

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: