//
you're reading...
Common

MUHAMMAD PIMPINAN PERAMPOK

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

@muslimasli wrote:dalam masa perang, hanya ada 2 pilihan, MEMBUNUH atau DIBUNUH.

@muslimasli wrote:menurut anda, jika Nabi Muhammad diperangi, mau dibunuh kafir, apakah harusnya Nabi Muhammad menyerahkan leher beliau untuk digorok musuh2nya ?

MUHAMMAD PIMPINAN PERAMPOK
MUHAMMAD TERNYATA JAUH LEBIH HINA DARI ANJING

Kalau korban perampok di atas cuma 2 orang, korban Muhammad, hitung saja sendiri!!!!

Bagaimana mungkin seseorang yang memanggil dirinya utusan Tuhan ternyata merampok rombongan kafilah2 pedagang dan bertingkah seperti penjahat murahan dan penyamun jalanan?

Ayatollah Montazeri:
Penyerangan terhadap kafilah pedagang Quraish adalah karena kafilah ini terdiri dari beberapa orang Mekah yang kayaraya yang merupakan musuh Islam dan ditemani oleh Abu Sofyan yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Islam dan orang2 Muslim. Di tahun itu, permusuhan kaum Quraish dan hasutan yang melawan Islam dan orang2 Muslim telah meningkat. Medina jadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan bagi orang2 Muslim dan kota ini diserang musuh2nya yakni orang2 Quraish dari berbagai arah.

Banyak orang Muslim yang dipaksa meninggalkan rumahnya karena penyerangan kaum Quraish dan mereka harus melarikan diri ke Medina. Orang2 ini lalu ingin balas dendam dan mengambil kembali barang2 mereka yang dirampas oleh kaum Quraish. Mereka diberitahu bahwa kafilah ini membawa banyak barang2 berharga. Para pemimpin Muslim juga merencanakan untuk membuat jalan raya itu jadi tidak aman bagi para musuh karena jalan ini penting bagi kebutuhan ekonomi dan militer bagi mereka. Tujuan utama serangan mendadak ini adalah memutuskan urat nadi sehingga musuh jadi lemah dalam peperangan melawan kaum Muslim. Peperangan ini terus berlanjut sampai Mekah ditaklukan.

Sudah jelas jika dua negara atau dua kekuatan sedang berperang, dan saat itu tidak ada perjanjian damai diantara mereka, setiap pihak sah saja untuk melemahkan kekuatan ekonomi dan militer pihak musuh dan mengancam keamanannya.

Sejak dulu sampai sekarang hal ini dianggap sebagai perlakuan yang wajar di seluruh dunia. Ini sungguh beda dengan perampok jalanan. Perampok jalanan adalah penjahat dan pengacau yang membahayakan kehidupan dan keselamatan orang2 yang hidup damai di kota atau negaranya sendiri yang tidak saling membenci dan mencuri barang orang lain.

———————————————————————- ——

TANGGAPAN A SINA

Wahai Ayatollah Ozma Montazeri,

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih karena engkau jujur dan tidak seperti kebanyakan Muslim yang berkata semua perang2 sang Nabi hanya merupakan upaya bela diri. Engkau mengakui bahwa dialah yang jadi agresor dan memang dialah yang menyerang kafilah2 pedagang itu. Ini menyingkat banyak waktu untuk kita berdua karena aku tidak usah memberikan daftar begitu buanyaknya serangan2 dia ke siapa saja yang dianggapnya sebagai musuh2nya.

Akan tetapi, engkau tampaknya mensahkan penyerangannya terhadap kafilah2 pedagang, kota2, dan pembantaiannya terhadap penduduk sipil karena kau memandangnya sebagai strategi militer untuk memperlemah kedudukan musuh. Keterangan dari Muhammad sendiri adalah orang2 Muslim punya hak untuk mengambil kembali apa yang dirampas oleh kaum Quraish ketika mereka memaksa orang2 Muslim melarikan diri.

Tetapi sebenarnya, orang2 Mekah tidak mengusir orang2 Muslim ke luar dari rumahnya. Orang2 Muslim ini ke luar karena keinginan mereka sendiri dan karena paksaan Muhammad. Per-tama2, dia memerintahkan pengikutnya untuk pergi ke Abyssinia dan ketika dia menemukan cukup pengikut di Medinah, dia mengirim mereka ke sana.
Kebenarannya adalah meskipun faktanya Muhammad terus-menerus menghina agama orang Quraish dan membuat marah mereka dengan kelakuannya yang kasar, tidak satu pun kejadian pertengkaran fisik atau penindasan terhadap Muhammad atau pengikutnya yang tercatat di sejarah2 Islam.

Saat ini, para Muslim tidak menoleransi kritik apapun terhadap agamanya. Mereka dengan cepat main bunuh orang yang berani mempertanyakan agamanya. Ini memang hal yang diajarkan sang Nabi. Tapi orang2 Arab sebelum zaman Muhammad lebih toleran. Mereka tadinya biasa hidup damai bersama dengan orang2 Yahudi dan Kristen tanpa ada pertengkaran agama diantara mereka. Ujian berat terhadap toleransi mereka terjadi ketika Muhammad mulai menghina dewa2 mereka. Meskipun demikian, orang2 Quraish menunjukkan dengan jelas tingginya toleransi mereka dan meskipun mereka tersinggung, mereka tidak pernah menyakiti Muhammad ataupun seorang pun dari pengikutnya.

Bandingkan dengan perilaku terhadap kaum Baha’i di Iran. Baha’i tidak menghina Muhammad atau Allahnya. Mereka tidak menolak para Imam atau tidak menentang bagian manapun dalam Qur’an. Yang mereka katakan adalah utusan mereka adalah Yang Dijanjikan dari orang2 Muslim. Ini bukan apa2 dibandingkan dengan hinaan Muhammad terhadap kepercayaan orang2 Quraish. Meskipun begitu orang2 Muslim tidak menahan diri untuk tidak membunuh orang Baha’i. Mereka membunuh banyak dari orang2 Baha’i, memenjarakan, menyiksa, memukul mereka, melecehkan hak2 manusiawinya dan memperlakukan mereka secara biadab. Tidak satu pun perlakuan serupa diterapkan kepada Muhammad dan pengikutnya di Mekah, juga bahkan ketika ia terus-menerus menghina dewa2 mereka dan mengutuki agama mereka, seakan menantang untuk bertengkar.

Ketika orang2 Mekah sudah tidak tahan lagi atas ejekan Muhammad terhadap agama mereka, sekelompok pemimpin mereka datang ke Abu Talib, paman Muhammad dan mereka mengeluh :”Keponakanmu telah menghina dewa2 dan agama kami dan mengatakan kami ****, dan kakek moyang kami semua sesat. Sekarang, balaskanlah kami dari dia, atau, (melihat kamu juga dalam keadaan yang sama dengan kami) biarkanlah dia agar kami bisa membalas dia.” Abu Talib menjawab dengan lemah lembut dan meyakinkan mereka bahwa ia akan menasehati keponakannya untuk bersikap hormat. Tapi Muhammad tidak merubah kelakuannya. Sehingga orang2 Mekah itu sekali lagi pergi bertemu Abu Talib dengan penuh rasa jengkel, dan memperingati dia jika dia tidak mengekang keponakannya dari sikapnya yang menyakitkan, mereka sendiri yang akan mengekang dia. Mereka menambahkan: “dan sekarang kami sudah tidak bisa bersikap sabar lagi terhadap pelecehannya pada kami, kakek moyang kami, dan dewa2 kami. Sekarang tahanlah dia dari kami atau kamu berada di pihaknya sehingga kita perlu mengambil keputusan diantara kita.”

Itulah yang tertulis tentang penindasan terhadap orang2 Muslim di Mekah. Yang tertulis di atas adalah suatu peringatan tapi bukan ancaman pembunuhan. Malah kenyataannya, dari waktu Abu Talib masih hidup sampai dia meninggal, Muhammad tinggal di Mekah tanpa disakiti dan tidak ada pengikutnya yang menderita penindasan.

Satu2nya kekerasan fisik yang ditulis terhadap seorang Muslim adalah pemukulan yang dilakukan Omar terhadap adik perempuannya sendiri yang telah memeluk Islam, dan ini juga yang kemudian membuatnya memeluk Islam. Ini tidak dapat dianggap sebagai penindasan agama karena ini adalah kekerasan masalah keluarga sebab Omar adalah orang yang gampang marah dengan sifatnya yang labil, mudah lepas kendali dan lalu ngamuk. Tapi Hadith ini pun mungkin tidak benar karena Hadith lain yang diceritakan oleh Omar sendiri menggambarkan ia menjadi pemeluk Islam dengan cara yang berbeda.

Maka timbulah pertanyaan, kalau tidak ada penindasan terhadap orang2 Muslim, siapa dong yang mengusir mereka ke luar dari rumah2 mereka? Kita tahu banyak dari mereka yang meninggalkan Mekah dan pergi pertama kali ke Abyssinia dan lalu ke Medina. Kenapa mereka meninggalkan rumah mereka jika mereka tidak dalam keadaan bahaya?
Jawaban pertanyaan ini dapat ditemukan pada Muhammad dan apa yang terjadi dalam pikirannya. Dialah yang meminta mereka pergi. Malah dia memerintah mereka dengan memakai firman dari Allah. Ayat2 berikut dengan jelas menunjukkan hal ini.

“Lihat! Mereka yang percaya dan meninggalkan rumahnya dan berjuang dengan kekayaan dan hidupnya untuk kepentingan Allah, orang2 yang membawa mereka masuk dan menolong mereka: mereka adalah kawan2 yang melindungi satu sama lain. Dan mereka yang percaya tapi tidak mau meninggalkan rumahnya, kalian tidak punya tugas untuk melindungi mereka sampai mereka meninggalkan rumahnya; tapi jika mereka minta tolong padamu karena alasan agama maka itulah tugasmu untuk menolong (mereka) kecuali terhadap orang2 yang diantara mereka dan kalian terdapat suatu perjanjian. Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.” Q.8: 72)

Ini adalah kata2 yang sangat keras terhadap pengikut2nya yang tidak mau meninggalkan Mekah dan tetap tinggal di sana. Di bagian lain ia menekankannya lebih lanjut.

Mereka ingin agar kalian jadi tidak percaya sama seperti mereka tidak percaya, agar kalian sama derajatnya (seperti mereka). Maka janganlah berkawan dengan mereka sampai mereka meninggalkan rumahnya dalam jalan Allah; jika mereka balik (membenci) maka tangkaplah mereka dan bunuh mereka di manapun kalian menemukan mereka, and jangan berkawan dan jangan jadi penolong diantara mereka, (Q.4: 89)

Di ayat di atas Muhammad memerintahkan orang2nya di Mekah untuk meninggalkan rumahnya dan pergi ke Medina. Dia bahkan lebih lanjut memerintahkan Muslim2 lain untuk membunuh mereka jika mereka balik kembali ke rumahnya. Ini sungguh sesuai dengan sifat kultis Islam. Jadi kita bisa melihat bahwa kepergian orang2 Muslim dari Mekah tidak disebabkan oleh penindasan kaum penyembah berhala. Tidak ada penindasan dari mereka meskipun Muhammad menghina kaum Quarish sampai pada batas kesabaran mereka. Para pengikut Muhammad baru meninggalkan Mekah karena dia memerintahkan mereka untuk pergi. Caranya menekan sedemikian hebat sampai2 dia berkata bahwa mereka akan masuk neraka jika mereka tetap tinggal dan tidak mau pergi.

Lihat! Para malaikat membawa (kematian) bagi mereka ketika mereka berdosa, (para malaikat) akan bertanya: apa yang sedang terjadi padamu? Mereka akan berkata: Kami ditekan di daerah ini. (Para malaikat) akan berkata: Tidakkah bumi milik Allah luas sehingga kalian bisa pindah ke tempat lain? Karena itu, tempat kalian adalah di neraka, ujung perjalanan kejahatan; (Q.4: 97)

Muhammad merencanakan untuk menaklukan Arabia dan menundukkan Persia.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah: “kenapa?” Kenapa sang Nabi memaksa pengikutnya beremigrasi padahal mereka tidak ditekan di kota mereka sendiri? Kenapa dia memaksa mereka untuk meninggalkan tanah asalnya? Cara ini sungguh tidak lazim sehingga banyak ahli2 sejarah Islam dari dunia Barat seperti Sprenger dan Sir William Muir gagal melihat rencana sebenarnya yang sedang digodok dalam kepala Muhammad sejak hari2 awal waktu dia tahu bahwa hanya ada segelintir orang saja yang sebenarnya percaya bahwa dia itu utusan Tuhan.

Muir dalam “Kisah Hidup Muhammad” mengutip Hishami:

Orang2 Koreish, mendengar bahwa Abu Talib hampir mati, mengirim seorang utusan yang mengusahakan agar ada ikatan di kedua belah pihak, bahwa setelah kematian Abu Talib, semua kekangan pada Muhammad akan ditiadakan. Mereka mengajukan persyaratan agar mereka tetap dapat memeluk agama kuno mereka, dan Muhammad harus berjanji untuk tidak mengganggu atau ikut campur, dan sebaliknya mereka pun setuju untuk tidak menganggu kepercayaannya.

Abu Talib memanggil Muhammad dan menyampaikan permintaan wajar itu. Muhammad menjawab- “Tidak, tapi ada satu kata, yang jika kalian katakan, kalian akan jadi penakluk Arabia, dan menundukkan Ajam (Persia).”

“Bagus!” kata Abu Jahl, “tidak ada satu kata seperti itu, tapi sepuluh.”

Muhammad menjawab, “Maka dari itu katakanlah: Tidak ada Tuhan selain Allah, dan tinggalkan agama kalian.”

Dan mereka pun menepukkan tangan mereka dengan marah, “Apakah kamu memang benar2 ingin mengubah dewa2 kami jadi satu Tuhan? Sungguh aneh sekali!”

Dan mereka pun mulai bersahutan satu sama lain, “Orang ini keras kepala dan tidak dapat diajak kerja sama. Kalian tidak akan dapat persetujuan apapun yang kalian harapkan. Kembalilah, dan biarkan kami menganut agama dari kakek moyang kami sampai Tuhan menentukan masalah diantara kami dan dia.”

Maka mereka bangkit dan pergi. Hishami, halaman 136

Dari cerita di atas kita bisa mengambil beberapa fakta:
a.) Orang2 Quraish tidak menindas orang2 Muslim dan pemimpinnya
hanya meminta agar Muhammad menghormati kepercayaan mereka.
b.) Muhammad bersikeras untuk melanjutkan tingkah lakunya yang
kasar dan menghina orang2 Mekah dan agamanya.
c.) Muhammad mimpi untuk menaklukkan Arabia dan menundukkan
Ajam/Persia.

Sudah jadi jelas bahwa sang Nabi ketika masih di Mekah dengan segelintir pengikut sebenarnya sudah ber-angan2 untuk menaklukkan Arabia dan menundukkan Persia. Apakah layak bagi utusan Tuhan ber-angan2 untuk “menaklukkan” dan “menundukkan”?

Yang sewajarnya diharapkan dari orang yang dipilih Tuhan kan menjadi terang bagi umat manusia, punya pemikiran2 yang lebih mulia untuk membimbing, mendidik dan memerdekakan manusia, dan bukannya menaklukkan dan menundukkan mereka. Ini adalah pemikiran2 para penakluk bengis seperti Jengis Khan, Napoleon, Hitler dan bahkan Saddam Hussein. Tapi pemikiran seperti ini tidak layak datang dari seorang Nabi Tuhan, yang seharusnya memancarkan kasih sayang, belas kasihan, dan kualitas2 spiritual.

Sang Nabi adalah kasus jelas seorang megalomaniak. Dia penderita manik depresif yang hebat. Ketika dia sedang penuh semangat, dia punya angan2 untuk menaklukan dunia dan ketika ia sedang patah semangat, ia penuh pikiran untuk bunuh diri.

Sahih Bukhari V. 9, Buku 87, Nomer 111
“….Inspirasi Illahi juga berhenti sesaat dan sang Nabi jadi begitu sedih seperti yang telah kita dengar bahwa ia beberapa kali bermaksud melemparkan dirinya dari puncak gunung tinggi dan setiap kali ia naik ke atas gunung untuk melemparkan dirinya ke bawah, Jibril akan muncul di depannya dan berkata, “O Muhammad! Engkau memang betul2 Rasul Allah” dan hatinya jadi tenang dan ia pun turun ke bawah dan kembali ke rumahnya. Dan jikalau masa datangnya insipirasi jadi lama sekali, ia pun akan melakukannya lagi, tapi pada saat ia mencapai puncak gunung, Jibril muncul di mukanya dan berkata seperti yang telah dikatakan sebelumnya.”

Perubahan suasana hati ini menunjukkan pada kita bahwa sang Nabi bukanlah utusan dari tuhan manapun, tapi ia adalah orang yang sakit jiwa, orang manik depresif yang labil. Impiannya untuk menaklukkan dan mengalahkan begitu kuat, dan ini menggerogoti pikiran2nya sedemikian rupa sehingga mengacaukan batas pengertian baik dan buruk dari kesadarannya. Baginya, impian mendominasi menjadi tujuannya yang paling utama. Dan untuk mencapai tujuan itu, ia tidak akan mau berhenti untuk alasan apapun. Dia terdorong berbohong dan bohongnya itu sangat meyakinkan sehingga ia bahkan berhasil membohongi dirinya sendiri. Meskipun penglihatan2 awalnya adalah hasil dari khayalannya, jika khayalan itu berhenti pun dia tetap saja mengeluarkan ayat2 karangan sendiri dan menyatakan dengan teliti impian2nya yang megah dengan begitu meyakinkan, dan gejala ini khas pada orang yang sakit jiwa.

Megalomaniak seperti Muhammad dan Hitler seringkali merupakan orang2 yang berkharisma dengan kepribadian yang mempesona yang bisa memukau penontonnya dengan pidatonya, dengan semangatnya, dan dengan rasa percaya dirinya. Melihat Hitler dengan pidatonya yang penuh keceriaan, semangat, inspirasi dan pengaruh yang dibawakannya dengan penuh rasa percaya diri yang memukau imajinasi jutaan orang Jerman yang mendengarkannya, mungkin bisa memberi kita pandangan ke dalam pikiran sang Rasul Allah dan mendapat penjelasan misteri dari sihirnya atas pengikut dan pengabdinya yang naif dan sederhana.

Seperti yang dia katakan di tempat pamannya Abu Talib yang waktu itu hampir mati, Muhammad bermimpi untuk menaklukkan Arabia dan menundukkan Persia yang perkasa, bahkan ketika pengikutnya hanyalah kelompok kecil yang tidak terlatih dan tidak berarti, tanpa kemampuan untuk melawan atau membela diri. Tetapi dia tidak hanya jadi pemimpi belaka, tapi dia juga adalah orang yang berusaha mewujudkan impiannya dengan tekad dan keuletan yang utuh. Untuk perjuangan menjadi penguasa besar, dia tidak segan2 mengorbankan apapun. Dia akan membunuh siapapun yang melawannya. Dia akan membunuh orang2 yang berpaling daripadanya. Dia akan menghukum mati siapapun yang mengritiknya. Dia akan membantai seluruh masyarakat Yahudi dan Kristen di Jazirah Arabia dan melakukan salah satu genoside (pembantaian masal rasial) pada masyarakat Yahudi di Medina dan Kheibar. Dia akan mengarang cerita2 jin dan malaikat dan akan mengelabui pengikutnya dengan kisah2 kunjungannya ke Surga dan Neraka untuk mengontrol pengikut2nya yang gampang tertipu dan ****. Dan dia akan menciptakan sebuah Allah, mengaku sebagai utusanNya dan menjadi satu2nya penghubung bagiNya dan sehingga ia dapat meminta penyerahan total tanpa syarat dari pengikutnya kepadanya seorang.

Impian2nya adalah tentang kemegahan dan rencananya adalah sempurna. Waktunya tepat dan ia memiliki orang2 terbaik untuk membantunya. Orang2 Arab pada zamannya itu pikirannya takhayul, fanatik, ambisius, kejam, barbar, keras kepala, punya sifat patriotik berlebihan, dan di atas semuanya mereka adalah orang2 yang gampang tertipu dan gampang percaya. Impian menaklukkan Arabia dan menundukkan Ajam cocok bagi orang yang terpikat pada Muhammad di daerah itu.

Tapi bagaimana ia dapat mewujudkan impiannya tanpa pasukan tentara? Bagaimana caranya agar ia dapat meyakinkan pengikutnya untuk mengangkat pedang dan menggunakannya untuk membunuh saudara2, orangtua2, dan kawan2 mereka sendiri? Dia harus menciptakan perasaan tidak senang. Dia harus menciptakan alasan kebencian yang tadinya tidak ada. Dia harus mengadu saudara dengan saudara dan memecah belah orang2 sedemikian rupa sehingga mereka dengan sukarela mengangkat pedang dan membabat satu sama lain atas perintahnya.

Karena itu, di satu pihak ia menyelenggarakan kampanye untuk menghina kepercayaan orang2 Quraish dan mengganggu mereka senantiasa dengan perkataan yang kasar dan menyakitkan hati untuk membuat mereka marah dan memusuhi yang selanjutnya akan menyerang dan menyakiti pengikut Muhammad.dan sebaliknya membuat pengikut2 ini merasa menjadi korban dan diperlakukan tidak benar. Di lain pihak, dia memaksa pengikut2nya untuk menjalani kesukaran hidup di pengasingan, meninggalkan rumah2 mereka dan pergi ke tanah asing. Jadi ia menempatkan satu pihak bermusuhan dengan pihak lain, dan mengakibatkan pengikut2nya merasa disesah. Sekarang mereka miskin, payah, dan menderita. Muhammad membutuhkan rasa marah dan sakit hati ini untuk memperkuat pengaruhnya pada mereka dan menguasai ketaatan mereka. Agar bisa berkuasa, dia harus memecah belah dulu.

Untuk berkuasa atas orang2 **** dan membuat mereka berpihak terhadapmu, engkau harus memberi mereka sekelompok musuh. Tidak ada yang lebih dapat membuat orang2 berkumpul di sekeliling Muhammad selain adanya pihak musuh. Ini merupakan tipuan paling kuno, yang sudah sangat berhasil digunakan oleh semua diktator di seluruh sejarah hidup umat manusia. Bahkan Ayatollah Khomeini pun menggunakan taktik politik ini untuk memperkuat dominasinya terhadap orang2 Iran yang mudah ketipu yang percaya pada kebohongannya.

Muhammad, yang membual di Qur’an “Makaroo va makara Allah. va Allah khyrul makereen” merupakan pembohong ulung pula. Dia berhasil membuat kebencian agama diatara orang2 yang meskipun **** dan fanatik tapi sebelumnya tak pernah menunjukkan sikap tak bertoleransi pada agama lain. Sekarang ia punya pengikut yang miskin, tidak puas, dan marah. Mereka siap berperang baginya dan menolongnya untuk mewujudkan impian2nya. Ketaatan pada “Tuhan dan Rasul Allah”, jadi semboyan Islam. Dan tentu saja, seperti biasanya, Allah akan memunculkan ayat2 untuk memberi NabiNya kekuasaan mutlak.

Siapapun yang tidak taat pada TUHAN DAN NABINYA, akan dimasukkan ke dalam Api Neraka, mereka akan berada di sana, selamanya! (Q.72: 23)

Menarik untuk disimak bahwa setelah ber-tahun2 menderita cacian, kaum Quraish memboikot usaha dagang dengan Muhammad dan pengikutnya. Mereka tidak mau membeli ataupun menjual apapun pada Muhammad dan pengikutnya. Mereka tidak mau menikah dengan siapapun dari kelompok Muhammad. Mereka bahkan mengancam untuk menghukumnya jika dia tidak berhenti menghina dewa2nya.

Selama waktu ini, Muhammad membentengi dirinya dengan anggota2 keluarganya, orang2 Hashemis (tanpa Abu Lahab) di Perempatan Mekah yang dikenal sebagai She’b dari Abu Talib. Keadaan ini berlangsung selama 3 tahun. Selama itu, mereka hanya ke luar saat naik haji dan kembali lagi setelah selesai. Suku Quarish tidak pernah menyerang Perempatan itu. Sebaliknya, mereka tampak puas sekali bahwa Muhammad tidak lagi berada di jalan2 meneriaki kata2 kotor pada dewa2 mereka.

Jika kaum Quraish ingin benar2 menghabisi orang2 Muslim dan Muhamad, mereka punya banyak kesempatan untuk melakukan hal itu. Tapi meskipun demikian mereka tidak menunjukkan sikap permusuhan dalam bentuk kekerasan terhadap kaum Muslim. Sebenarnya jauh lebih mudah bagi mereka untuk membasmi Muhammad beserta keluarganya daripada bagi Muhammad untuk membasmi tiga suku Yahudi di Medina.

Meskipun begitu, suku Quraish tetap curiga pada sang Nabi dan tindakan2nya, karena mereka mendengar jumlah pengikutnya bertambah di Medina. Pesan2 Muhammad penuh nada kematian dan ancaman untuk membuat mereka sengsara dan sikapnya pada orang2 Mekah jelas penuh permusuhan. Karena itu, wajarlah jika mereka bersikap waspada pada tindak-tanduknya dan mengawasinya dengan seksama. Kecurigaan mereka meningkat saat mereka mengetahui bahwa sang Nabi mengadakan pertemuan rahasia di tengah malam dengan para Peziarah dari Medina di Acaba, di pinggir kota Mekah.

Orang2 Mekah tidak dalam keadaan perang dengan orang2 Yathrib (Medina) tapi meskipun demikian, orang2 Medina merupakan orang2 asing. Apa hubungan sang Nabi dengan mereka? Mengapa dia bersekongkol dengan orang2 asing dan apa tujuannya pertemuan rahasia dengan mereka di tengah malam? Kita tidak dapat menyalahkan orang2 Quraish yang waswas dan khawatir akan keselamatan mereka ketika melihat rapat gelap yang mungkin mengancam kehidupan mereka.

Ini mengharuskan mereka untuk bertemu dan bicara dengan sang Nabi untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hasil pertemuan tidak jelas, tapi yang pasti ini membuat Muhammad takut kehilangan nyawanya dan melarikan diri dari Mekah ke rumah temannya, Abu Bakr.

Muhammad kemudian mengingat kejadian itu dan menerka mungkin mereka berencana untuk menangkapnya, membunuh atau melenyapkannya. Tapi tidak ada bukti akan terkaan itu dan bahkan dia sendiri maupun tuhannya yang MAHA tahu tampaknya tidak yakin akan hasil akhir pertemuan itu.

"Dan teringat ketika orang2 tak percaya merencanakan untuk melawanmu, dan mereka mungkin akan menangkapmu, atau membunuhmu, atau melenyapkanmu. Ya, mereka merencanakan, tapi Tuhan merencanakan yang sebaliknya. Dan Tuhan adalah perencana terbaik.” (Q.8: 29)

Di Medina

Setelah Muhammad dan Abu Bakr lari ke Medina, keluarga mereka tinggal di tempat asal (Mekah) selama beberapa minggu. Tapi tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada mereka dan suku Quraish tidak pernah menyakiti, mengusir atau mengganggu mereka sama sekali. Meskipun sebagaimana yang diungkapkan Muir “bukannya tidak masuk akal untuk menyandera mereka (keluarga Muhammad dan Abu Bakr) untuk berjaga-jaga terhadap serangan dari Medina. Kenyataan ini menyebabkan kita ragu akan tingginya tingkat kebencian dan kepahitan suku Quraish terhadap Muhammad yang tampaknya tidak seperti yang biasanya diceritakan. Sesuai dengan pandangan ini, ternyata yang pertama-tama menyerang duluan, setelah peristiwa Hegira, adalah pihak Muhammad dan para pengikutnya. Setelah beberapa kafilah mereka dijarah dan dihancurkan, dan darah dikucurkan, barulah orang2 Mekah terpaksa membela diri mengangkat senjata”.

Kenyataan bahwa Muhammad dan Abu Bakar tenang2 saja terhadap keamanan keluarga mereka yang ditinggalkan sendirian di Mekah jelas menunjukkan bahwa sikap permusuhan yang dituduhkan pada kaum Quraish terhadap orang2 Muslim ternyata dilebih-lebihkan dan hanya merupakan alasan belaka untuk mensahkan penyerangan selanjutnya ke Mekah. Tiada seorang Muslim pun yang diusir. Semuanya ke luar dari kota itu karena keinginan sendiri. Sebagian dari mereka, ditahan oleh anggota keluarga mereka sendiri dan beberapa yang menjadi budak tidak dapat ikut pergi. Selebihnya ikut Muhammad tanpa gangguan dari suku Quraish.

Ketika Muhammad sampai di Medina, terdapat kira2 duaratus pengikutnya (yang berasal dari Mekah) dan orang2 Medina dari suku2 Khazraj dan Aus yang percaya padanya dan mungkin jumlahnya juga sekitar duaratusan. Orang2 Mekah bukanlah orang2 yang trampil dan biasanya mereka bekerja di ladang2 dan perkebunan2. Kebanyakan bekerja sebagai buruh dan pesuruh orang2 Yahudi yang kayaraya. Maka keadaan saat itu sukar buat orang2 dari Mekah ini. Iman percaya pada Allah memang baik tapi tidak bisa memberi mereka makan. Muhammad tahu bahwa dia tidak dapat menguasai pengikutnya terlalu lama jika dia tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Lebih dari itu, ia memaksa mereka pindah tempat untuk berperang bagi dia dan mendirikan kekuasaannya di seluruh Arabia dan menundukkan Persia.

Akan tetapi pengikutnya yang berjumlah kecil itu tidak layak untuk menerima tugas2 militer. Meskipun begitu dia telah menjanjikan mereka yang meninggalkan rumah2nya di Mekah dan menggantinya dengan rumah yang mewah di dunia dan sekaranglah waktu untuk mewujudkan janjinya, kalau tidak ia akan menghadapi pemberontakan dan penolakan dari pengikut2nya.

“Bagi mereka yang meninggalkan rumah2 mereka karena Tuhan, setelah menderita tekanan, – Kita tentu akan memberikan sebuah rumah mewah di dunia ini, tapi sebenarnya hadiah di dunia baka lebih besar lagi. Jika saja mereka mengetahui (hal ini)!” (Q.16: 41)

Bagaimana mungkin dia dapat menyediakan segala kemewahan yang dijanjikannya pada mereka di dunia ini? Tentu saja Allah sendiri tidak dapat melakukan hal ini. Inilah saat dia harus menerapkan rencana yang sudah dipikirkannya di tahun2 sebelumnya. Tentu saja menaklukkan Arabia dan menundukkan Persia tidaklah mungkin dengan sedikit pengikut seperti itu, tapi menyerangi kafilah pedagang dan merampoki barang2 mereka sih bisa saja.

Sang Nabi jadi Garong.

Maka sang Nabi jadi seorang penggarong dan meskipun begitu dia tidak berhenti berkhotbah, “Bicaralah yang baik terhadap orang2 …” 2: 83 atau "Sabarlah pada apa yang mereka ucapkan, dan menjauhlah dari mereka dengan halus”. .73: 10 dan mulailah kata darah “qateloo” (bunuh) terdengar sebagai pesan2 Allah selanjutnya.
Selama enam bulan pertama kedatangan Muhammad di Medina, tidak ada hal penting yang terjadi. Para pendatang termasuk Muhammad sendiri harus berjuang untuk membeli sandang, pangan, papan.

Tapi pikiran2 Muhammad bukanlah pikiran damai. Dia punya rencana2, rencana2 yang besar. Jumlah pengikutnya bertambah, sebagian menyebrang dari Mekah untuk bergabung dan beberapa memeluk Islam di Medina. Sekarang dia bisa memerintah sekelompok prajurit. Tapi orang2 Medina bersumpah hanya akan membantu Muhammad mempertahankan diri jika dia diserang, dan tidak mau ikut dia untuk menyerang orang2 Quraish.

Jadi Muhammad bukannya menyerang Mekah, tapi di bulan Desember, 622 M, di Ramadhan, tujuh bulan setelah kedatangannya, sang Nabi memanggil pamannya Hamza, untuk memimpin 30 prajurit, untuk menyerang mendadak kafilah orang2 Mekah yang baru kembali dari Syria di bawah pengawalan Abul Hakam (Abu Jahl). Kafilah ini dijaga oleh kira2 300 orang. Prajurit2 Hamza harus kembali dengan tangan kosong ke Medina dan Abul Hakam melanjutkan perjalanan ke Mekah. Ini adalah pertempuran pertama yang dimulai oleh Muhammad, yang lalu ditinggalkan karena kekurangan orang dan perencanaan yang jelek. Tuhan yang memberitahu Muhammad untuk menyerang dan merampok kafilah2 tidak memberitahu cara melakukan hal itu. Dan sang Nabi pun haruslah belajar dari kegagalan2nya sama seperti garong kemaren sore.

Kejadian berikutnya terjadi sebulan kemudian di bulan Januari, 623 M. Pada saat ini Muhammad mengirim pasukan yang dua kali lebih kuat daripada penyerangan pertama, di bawah pimpinan Obeida, ibn Harith, untuk menyerang kafilah yang dikawal oleh Abu Sofian dengan 200 pengawal. Kali ini orang2 Quraish dikejutkan kala unta2 mereka sedang merumput dekat mata air di lembah Rabigh. Beberapa panah berterbangan ke dua belah pihak tapi akhirnya para penyerang mundur setelah menyadari jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan dengan orang2 kafilah tersebut.

Sebulan kemudian, penyerangan ketiga dilakukan dan dipimpin oleh Sa’d yang masih muda, dengan duapuluh prajurit, ke arah serangan yang sama. Dia ingin bergerak sejauh Kharrar, yakni lembah yang terletak di jalan ke Mekah, dan tiarap di sana sambil menunggu kafilah datang ke sana. Seperti kebanyakan perampok yang mau menyerang tiba2, mereka bergerak di malam hari dan tiarap bersembunyi di siang hari. Meskipun begitu, ketika mereka sampai di tujuan di pagi hari kelima, mereka menemukan bahwa kafilah telah berlalu sehari sebelumnya, dan mereka kembali dengan tangan kosong ke Medina.

Darmawisata ini terjadi di musim dingin dan semi di tahun 623 M. Di setiap kejadian, Muhammad mengikatkan sebuah bendera putih pada tongkat atau lembing, dan menyerahkannya pada pemimpin kelompok pada saat keberangkatan. Nama2 yang membawa bendera ini, dan juga nama2 ketua kelompok, dicatat dengan teliti di Hadith2 dan juga perjalanan2 lain yang penting.

Terdapa tiga kali lagi kegagalan perampokan yang diusahakan sang Nabi dan orang2nya di Abwa, Bowat, dan Osheira.

Keberhasilan di Nakhlah

Lebih dari setahun berlalu, dan meskipun telah melakukan beberapa kali usaha dan perjalanan, tak ada satupun dari usaha2 penggarongan sang Nabi suci yang berhasil. Rasul Allah yang megalomaniak ini akhirnya sadar kalau dia harus mencoba menyerang kafilah yang lebih kecil dulu. Jadi waktu ia mendengar kabar bahwa ada kafilah pedagang yang pergi dari Mekah ke Taif dan hanya dijaga oleh empat orang saja, dia cepat mengambil kesempatan ini dan mengirim Abdallah ibn Jahsh, bersama tujuh prajurit untuk merampok kafilah ini.

Gerombolan garong ini pergi ke Nakhla yang merupakan sebuah lembah diantara Mekah dan Taif yang terkenal dengan perkebunan kormanya dan mereka menunggu di sana. Dalam waktu singkat tibalah sebuah kafilah mengangkut minuman anggur, kismis, dan kulit. Kafilah ini dijaga oleh empat orang Quraish, yang jadi berhenti dan waspada melihat orang2 asing di hadapannya. Untuk mengalihkan kecurigaan mereka, salah satu anak buah Abdallah mencukur rambut kepalanya, yang merupakan tanda bahwa mereka baru kembali dari naik haji, karena ini adalah bulan2 di saat upacara itu dilakukan. Para kafilah lalu jadi tenang dan mengantar unta2 mereka ke padang rumput, dan mulai menyiapkan makanan bagi mereka sendiri. Lalu seorang dari prajurit2 Abdallah menyerang dan melepas sebuah anak panah, membunuh seorang dari kafilah di tempat itu juga. Lalu yang lain menyerang para kafilah, membunuh dua orang, dan lainnya disandera dan dibawa bersama barang2 curian ke Medina. Satu orang berhasil melarikan diri.

Sewaktu tiba di Median, pengikut2 Muhammad kecewa karena Abdallah dkk telah melanggar tradisi kokoh bahwa tidak boleh ada permusuhan di bulan2 suci. Ini adalah hal yang memalukan bagi sang utusan Allah dan dia pura2 marah. Dia ambil semua barang2 curian dan memenjarakan orang2 Quraish yang ditawan dan dia menunjukkan rasa tak senang. Tapi tak lama kemudian sang Nabi yang penuh firman ini mengeluarkan sebuah firman baru dari balik bajunya yang katanya dari Allah dan memaafkan pelanggaran itu:

"Mereka akan bertanya padamu mengenai Bulan2 Suci, apakah mereka boleh berperang. KATAKANLAH: Berperang adalah menyedihkan; tapi merintangi jalan Tuhan, atau menyangkalNya, dan menghalangi orang ke mesjid, dan lalu mengusir orang2Nya, adalah lebih menyedihkan bagi Tuhan. Tergoda (untuk menyembah berhala) adalah lebih menyedihkan daripada membunuh.
Mereka tidak akan berhenti memerangimu sampai engkau meninggalkan keyakinanmu, jika keyakinanmu itu melemahkan mereka; tapi siapapun diantaramu yang menyangkal imanmu dan mati sebagai orang yang tak percaya, maka pastilah jasa2nya tak dihitung di kehidupan kini dan kemudian. Merekalah penghuni neraka, untuk selama2nya. Tapi bagi mereka yang percaya, dan mereka yang pindah tempat demi kepentingan imannya, dan berjuang tulus dalam jalan Tuhan, maka biarlah mereka berharap pengampunan Tuhan; karena Tuhan pemaaf dan pengampun.” (Q.2: 217)

Setelah mengumumkan ayat ini, Muhamad menyerahkan barang jarahan pada Abdallah dkk, yang kemudian setelah memberikan seperlimanya pada Muhammad, membagi sisanya diantara mereka. Sebelum Abdallah sampai di Nakhla, dua orangnya, Sa’d dan Otba, kehilangan onta2 mereka yang berkeliaran di gurun pasir. Mereka mengejar onta2 itu dan terlambat ikut pertempuran di Nakhla.

Ketika Abdallah kembali ke Medina, dua orang ini belum datang. muhamad takut mereka ditangkap orang2 Quraish dan tidak mau membayar tebusan sampai dia yakin bahwa dua orang itu masih hidup: “jika kau membunuh dua orangku, “katanya, “pasti aku akan membunuhmu pula.” Tapi kemudia kedua orang itu muncul dan sang Nabi menerima uang tebusan bagi mereka, 40 ons perak untuk setiap orang dan lalu membebaskan mereka.

Menyerang kafilah pedagang, berkelahi di bulan suci, menipu, dan membunuh orang2 tak bersalah, merampas, menculik orang untuk disandera, meminta uang tebusan, mengancam untuk membunuh, dll, semua ini adalah tingkah laku yang tidak bisa diharapkan dari seorang utusan Tuhan. Yang dilakukan sang Nabi di sini adalah tindakan kriminal. Tidak ada pembenaran apapun dari tindakan tersebut.

Baru saat itulah orang2 Quraish jadi sadar bahwa musuh mereka tidak menghormati aturan apapun. Menarik untuk diperhatikan bahwa penumpahan darah pertama antara orang2 Muslim dan non-Muslim dilakukan oleh seorang Muslim. Tidak bisa dikatakan bahwa pihak Muslim adalah korban dari persengketaan ini. Merekalah yang selalu jadi penyerang, pelawan, dan pemancing permasalahan.

Ibn Hisham menegaskan hal ini, “Ini adalah, barang rampasan pertama yang diambil orang2 Muhammad, sandera2 pertama yang ditawannya, dan nyawa2 pertama yang mereka ambil.” Sang Nabi menentukan Abdallah, ketua penyamun Nakhah, dengan sebutan Amir al Mominin, " Pemimpin Orang2 yang Setia " yang inilah sebutan yang kemudian dipakai oleh sang Kalifah (pemimpin umat Islam) sejak itu..

Penyerangan ini menunjukkan bahwa sang Nabi dan para pengikutnya sama sekali tidak menghormati baik nyawa manusia maupun bulan2 suci yang dihormati oleh seluruh orang. Meskipun begitu, orang2 Quraish tidak pula membalas. Meskipun beberapa Muslim masih tinggal di Mekah, orang2 Quraish tidak membalas dendam atau memperlakukan mereka dengan kejam. Ini sungguh berbeda dengan sikap Nabi dalam menghukum yang orang yang melawannya. Ketika orang2nya menangkap penjaga kafilah di Nakhlah, dia sudah bersiap untuk membunuh mereka hanya karena dikiranya dua prajuritnya tertangkap dan dibunuh di Mekah. Juga meskipun hal ini benar, bagaimana mungkin seorang utusan Tuhan membunuh orang tak bersalah atas dosa orang lain? Akan tetapi, tindakan semena-mena sang Nabi yang paling keji adalah ketika dia membantai seluruh orang2 Quraish sebagai pembalasan dendam atas pembunuhan satu orang Muslim yang sebelumnya telah membunuh orang Yahudi.

Setelah keberhasilan menggarong di Nakhlah, sang Nabi menambah kekayaannya dari usaha penggarongan yang lebih banyak dan menjadi seorang akhli di bidang penjarahan dan peperangan. Lebih banyak kafilah diserang dan lebih banyak lagi barang2 rampasan yang mengisi peti2 mati sang Nabi dan memperkaya pengikutnya. Pada saat inilah sang Nabi mulai mengeluarkan ayat2 yang menganjurkan orang untuk berperang dan membunuh. Ini contohnya:

“Bawalah kabar2 baik bagi orang budiman. Sebenarnya Tuhan akan menahan musuh dari mereka yang percaya, karena Tuhan tidak suka orang murtad yang tak beriman. Diperbolehkan untuk berperang (melawan para murtad) karena mereka (pengikut Muhammad) telah dirugikan; dan pasti Tuhan yang Maha Perkasa membantu mereka yang diusir dari rumah2 mereka tapi alasan yang adil, – tidak ada alasan lain selain mereka berkata bahwa Tuhanlah Tuan kami. Dan sebenarnya jika tidak karena Tuhan menahan umat manusia, sebagian dari mereka berhutang pada yang lain”. (Q.22: 41)

Lihatlah bagaimana sang Nabi suci memutar balik kenyataan untuk mendorong pengikut2nya membunuh membabi-buta. Seperti yang kita lihat, orang2 Muslim tidak “dirugikan” dan mereka tidak diusir dari rumah2 mereka. Orang2 Quraish tidak menindas mereka karena kepercayaan pada Tuhan. Ayat2 yang menghasut ini bohong belaka. Tapi ia ingin mendorong mereka untuk menjadi prajuritnya dan menolongnya mewujudkan impiannya untuk menguasai Arabia dan menundukkan Ajam (Persia).

Perjanjian yang dibuat di Media mengharuskan penduduk kota itu untuk melindungi Muhammad jika dia diserang orang2 Mekah, tapi penduduk Medina tidak perlu ikut dalam melakukan serangan2, merampok, dan memperkaya sang Nabi dengan barang2 hasil rajahan perang. Tapi Muhammad butuh partisipasi mereka dalam perjalanan2nya. Pemecahan masalahnya, seperti biasa, ditemukan dalam penglihatan illahi.

"Perang ditakdirkan bagimu, meskipun (perang) itu menjengkelkanmu. Secara kebetulan kau tidak suka apa yang baik untukmu, dan menyukai yang jahat bagimu. Tapi Tuhan mengetahui, dan kalian tidak.” Q …

Pada titik ini kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang membuat seorang menjadi utusan Tuhan jika bukan karena perbuatan2 dan tingkahlakunya yang baik? Dalam hal apa sang Nabi lebih baik daripada penyamun biasa, gangster, perampok, pengacau, penjahat dan kriminal?

– HOT NEWS: MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING SELINGKUH, ISTRI PERTAMA KABUR DARI RUMAH!!!!

– MENKOMINFO: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?

– Korupsi Ahmad Heryawan/Aher Gubernur PKS Bisa dibaca disini.

– Korupsi Anis Matta, Tifatul Sembiring dan pejabat PKS lainnya bisa dibaca disini.

Beberapa Link/Website Mungkin Diblokir, untuk membuka blokir silakan klik:
Tip-tip Buka Blokir Website Karena Nawala

Atau dengan Firefox Add On Berikut:

Firefox anonymoX – Anti Blokir Situs Website

Faithfreedom Indonesia

Koruptor Koalisi Prahara Prabowo Hatta Rajasa
Foto Koalisi Koruptor Prabowo Hatta Prahara

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: