//
you're reading...
Berita Nasional

ACEH 2014 : Apa yang meningkat di Aceh ?

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Aceh terus meningkat

Reporter : Afif | Sabtu, 19 April 2014 23:11

Image

Merdeka.com – Kasus kekerasan seksual yang menimpa anak di bawah umur semakin mengkhawatirkan di Aceh. Sejak tiga tahun terakhir, Lembaga Bantuan Hukum Anak (LBH Anak) Banda Aceh menemukan fakta, kasus kekerasan seksual terus mengalami peningkatan. Sehingga ini membutuhkan perhatian khusus dari Pemerintah untuk menanggulanginya.

Pada tahun 2012, LBH Anak Banda Aceh menangani kasus kekerasan seksual sebanyak 10 kasus, kemudian pada tahun 2013 naik menjadi 12 kasus yang ditangani oleh LBH Anak. Kemudian pada tahun 2014 semakin mengkhawatirkan, sampai bulan April 2014 LBH Anak telah mendampingi 13 kasus kekerasan seksual yang menimpa anak.

Adapun Kabupaten/Kota yang dominan terdapat kekerasan seksual terhadap anak pada tahun 2014 terdapat di Kota Banda Aceh yang sedang mengkampanyekan Kota Madani sebanyak 3 kasus dan Aceh Utara juga terdapat 3 kasus. Kemudian Aceh Besar 1 kasus, Pidie 1 kasus, Aceh Tamiang 2 kasus dan Lhokseumawe 2 kasus. "Ini kasus selama tahun 2014 kita dapatkan," kata Ketua Divisi Pendampingan Sosial Anak, LBH Anak Banda Aceh, Ikhsan Zakaria, Sabtu (19/4) di kantornya.

Katanya, ada banyak faktor yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap anak. Selain kurangnya mendapatkan pengawasan dari kedua orang tuanya, keluarganya dan juga minimnya kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadi kekerasan seksual terhadap anak. Selebih itu juga akibat pengaruh teknologi mudahnya orang mengakses film porno.

"Pengaruh IT juga sangat besar, karena setelah menonton film porno, ada remaja ingin melakukan seperti apa yang dia tonton," tukasnya.

Dikatakannya, kekerasan seksual di Aceh 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan dan sudah sangat mengkhawatirkan. Sehingga butuh perhatian semua pihak, terutama pemerintah agar memberikan perhatian khusus. "Cenderung meningkat kekerasan seksual, ini butuh keterlibatan semua pihak untuk menanganinya," tukasnya.

Salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan, katanya, ada lah rumah khusus anak tempat dilakukan rehabilitasi mentalnya. Rumah itu juga berfungsi untuk diasingkan sementara selama masa persidangan, karena rata-rata pelaku kekerasan seksual itu dilakukan oleh orang terdekat dan dikenali oleh korban.

"Ini penting rumah anak khusus untuk diasingkan sementara selama masa rehabilitasi dan masa persidangan untuk menghindari intimidasi dan pengaruh lainnya," ungkap Ikhsan Zakaria.

Selain itu, ada pengaruh sosial lainnya yang dihadapi oleh korban. Kata Ikhsan, masyarakat acap kali menjustifikasi bahwa korban tersebut yang salah serta sering dicibirkan oleh masyarakat. "Ini yang sangat kita khawatirkan, sudah menjadi korban, banyak masyarakat menstigmakan negatif pada korban," ulasnya.

Atas dasar itulah banyak warga yang mengalami pelecehan seksual terhadap anak tidak melaporkan pada pihak penegak hukum. Karena ini dianggap aib keluarga yang tidak semestinya dipublikasikan pada publik. "Ini yang kita resahkan, karena masih dianggap aib, sehingga banyak kasus seperti itu didiamkan," tuturnya.

[bal]

Tiap tahun, kasus pencabulan anak di Aceh terus meningkat

Reporter : Afif | Minggu, 26 Januari 2014 01:09

Merdeka.com – Meskipun Aceh menerapkan syariat Islam dalam tatanan kehidupan sosial. Kejahatan seksual tetap saja terjadi, dan malah cenderung terjadi peningkatan tahun ke tahun. Mirisnya, kekerasan seksual itu lebih banyak menimpa anak-anak di bawah umur.

Manager Kasus Badan Pemberdayaan Perempuan Aceh (BP2A), Endang Setianingsih pada merdeka.com mengatakan, kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2011, kasus pelecehan seksual terhadap anak sebanyak 7 kasus, lalu tahun 2012 9 kasus dan tahun 2013 meningkat menjadi 12 kasus.

"Kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat, semakin meningkat setiap tahunnya, ini sangat memprihatinkan," kata Endang Setianingsih, Sabtu (25/1) di Banda Aceh.

Dosen Psikologi Harapan Bangsa Aceh membenarkan bahwa pelaku pemerkosaan terhadap anak dilakukan oleh orang terdekat. Baik itu orangtuanya sendiri, dan bahkan ada guru mengaji serta orang terdekat lain melakukan perbuatan haram tersebut.

"Mirisnya di Aceh Besar ada guru mengaji yang melakukannya, ada juga bilal Masjid, bahkan dilakukan di dalam Masjid," tegasnya.

Endang kembali menegaskan, persoalan ini tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Pemerintah harus segera bersikap untuk menangani hal itu. Kata Endang, di BP2A terus berusaha melakukan pembinaan dan pengawasan agar hal ini tak lagi terjadi.

"Kekerasan ini juga terjadi ada pengaruhnya terhadap ekonomi, tidak sedikit orangtua yang memerkosa anaknya sendiri itu telah pisah ranjang," tutupnya.

– HOT NEWS: MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING SELINGKUH, ISTRI PERTAMA KABUR DARI RUMAH!!!!

– MENKOMINFO: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?

Beberapa Link/Website Mungkin Diblokir, untuk membuka blokir silakan klik:
Tip-tip Buka Blokir Website Karena Nawala

Atau dengan Firefox Add On Berikut:

Firefox anonymoX – Anti Blokir Situs Website

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static
Faithfreedompedia
Faithfreedompedia

PKS Partai Phustun dan Sapi
Foto Skandal-Skandal PKS

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: